Posted by : Unknown
16 Maret 2015
Rattenfänger von Hameln, ada yang tahu apa itu Rattenfänger von Hameln.? Pasti gak tau ya? Mari merapat sini, saya akan ceritakan cerita tentang Rattenfänger von Hameln. Jadi, saya tahu pertama kali legenda ini dari anime yang judulnya Mondaiji - tachi ga Isekai Kara Kuru Sou Desu Yo (ini salah satu anime kesukaanku lho) dan karena saya penasaran jadi saya langsung nyari ceritanya di internet meskipun udah diceritain di anime tersebut.
Yosh, langsung aja deh.
Jadi, Rattenfänger von Hameln adalah salah satu legenda dari Jerman. Rattenfänger von Hameln dalam bahasa Indonesia berarti Peniup Seruling dari Hamelin. Legenda ini menceritakan tentang hilangnya anak-anak dari Kota Hamelin (Hameln), Niedersachsen, Jerman, pada abad pertengahan. Kisah
terawal mendeskripsikan tentang seorang peniup seruling, dengan pakaian
berwarna-warni, memikat anak-anak untuk meninggalkan kota dan tidak pernah
kembali lagi. Pada abad ke-16, penuturan tersebut dikembangkan menjadi
suatu kisah utuh, tentang peniup seruling yang datang ke kota untuk
memberantas hama tikus dengan cara meniup seruling ajaibnya. Setelah
pemerintah kota menolak untuk memberikan imbalan, si peniup seruling memanfaatkan
kekuatan sihirnya untuk memikat anak-anak, membuat mereka meninggalkan kota
sebagaimana yang telah dilakukannya pada hama tikus. Kisah versi tersebut
menyebar sebagai dongeng. Versi tersebut juga ditulis berulang kali, di
antaranya oleh Johann Wolfgang von Goethe, Grimm Bersaudara,
dan Robert Browning.
Tahun
1284, ketika kota Hamelin terkena bencana hama tikus,
seorang pria berpakaian aneka warna datang dan mengaku sebagai pengusir tikus.
Orang asing itu berjanji kepada walikota bahwa masalah hama di kota tersebut
akan terpecahkan. Sebagai gantinya, walikota berjanji bahwa ia akan mendapat
imbalan yang setimpal setelah berhasil mengusir hama tersebut. Setelah
perjanjian disepakati, orang asing itu memainkan seruling ajaibnya. Suara
seruling tersebut memikat para tikus di setiap rumah penduduk untuk mengikuti
si peniup seruling hingga sampai di sungai Weser. Semua tikus
ditenggelamkan di sana kecuali seekor. Setelah usahanya berhasil, sang walikota
tidak memberi imbalan sesuai yang dijanjikannya. Si peniup seruling menjadi
berang lalu meninggalkan kota, dan bersumpah bahwa ia akan kembali di lain hari
untuk menuntut balas. Pada Hari Yohanes dan Paulus, ketika para penduduk
dewasa berkumpul di gereja, si peniup seruling kembali lagi dengan pakaian
hijau seperti pemburu, kali ini dengan maksud memikat seluruh anak di Hamelin. Seratus
tiga puluh anak lelaki dan perempuan mengikutinya sampai ke luar kota, kemudian
mereka diajak ke sebuah gua dan tidak pernah terlihat lagi. Tergantung versi
cerita, sekurang-kurangnya ada tiga macam anak yang tertinggal di belakang.
Anak yang pertama adalah anak yang pincang sehingga tidak mampu mengikuti anak
lainnya dengan cepat; yang kedua adalah anak yang tuli yang ikut-ikutan karena
merasa penasaran; yang terakhir adalah anak yang buta dan tidak mampu melihat
ke mana ia pergi. Ketiga anak tersebut memberi informasi kepada penduduk kota
tentang apa yang terjadi setelah mereka meninggalkan gereja.
Beberapa
teori mencoba menghubungkan kisah Peniup Seruling dari Hamelin dengan peristiwa
nyata. Teori migrasi mengenai hilangnya anak-anak di Hamelin didasari
oleh gagasan bahwa pada abad ke-13 di area tersebut ada banyak
penduduk yang mengakibatkan anak tertua memiliki hak waris seluruh tanah dan
kekuasaan (majorat), sementara yang lain sebagai pengolah tanah. Dalam
suatu teori dinyatakan bahwa salah satu alasan
mengapa emigrasi anak-anak tidak pernah didokumentasikan karena
anak-anak tersebut dijual pada perekrut dari kawasan
Baltik di Eropa Timur, dan merupakan praktik yang tidak lazim pada
masa itu. Dalam esainya yang berjudul Pied Piper Revisited, Shiela Harty
menyatakan bahwa nama marga orang-orang dari tempat tersebut mirip dengan nama
orang-orang dari Hamelin dan penjualan anak zadah, yatim piatu, dan anak-anak
lainnya tampaknya disebabkan karena pihak kota tidak mampu merawat mereka. Ia
menyatakan lebih lanjut bahwa kisah ini mungkin salah satu kekurangan dalam
catatan sejarah kota tersebut.
Nah, seru banget kan ceritanya? Ternyata di Jerman ada cerita yang begituan juga.
Tunggu mitos ataupun legenda yang berikutnya ya! Jangan bosen main ke blog ini (walaupun emang ngebosenin sih).
Dan jangan lupa berilah tanggapan, entah itu kritik, saran, ataupun yang lainnya akan saya terima dengan lapang dada. Terimakasih.
Oyasumi ^^ udah malem to ternyata hihi..
Sumber : id.wikipedia.org
Tunggu mitos ataupun legenda yang berikutnya ya! Jangan bosen main ke blog ini (walaupun emang ngebosenin sih).
Dan jangan lupa berilah tanggapan, entah itu kritik, saran, ataupun yang lainnya akan saya terima dengan lapang dada. Terimakasih.
Oyasumi ^^ udah malem to ternyata hihi..
Sumber : id.wikipedia.org
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar